Rasanya Di Bully @Twitter

Ah, seumur-umur punya akun twitter (seingat saya) baru kali ini saya merasakan betapa di bully itu tidak mengenakkan. Walau tidak begitu dahsyat, tapi sungguh membuat nyeri. Bermula dari komentar saya di tweet @panditfootball, dari sinilah saya "diserang", dari berbagai arah.

Padahal, penyebabnya cukup sepele, hanya soal komentar saya mengenai hasil pertandingan sebuah klub sepak bola, sebut saja Leicester City. Saya tidak bermaksud melecehakan sebenarnya, tapi yang baca komentar terlalu fanatik, sumbu pendek, mudah meledak. Jadilah saya obyek penderita.

Maksud dari komentar saya hanyalah mengomentari hasil satu pertandingan saja, antara Leicester vs Swansea, dimana Leicester menang dengan skor besar meskipun tanpa beberapa pemain pilarnya. Eeee, malah dikira saya mengomentari pertandingan satu musim komeptisi. Tapi sudahlah, anggap saja saya yang salah, biar pendukung sebuah tim (baca: saya) bisa belajar berbesar hati.

Tapi, dalam dunia yang tanpa garis seperti internet, yang sudah terlanjur terpublikasikan teramat sulit untuk di tarik kembali, minimal untuk sekedar di edit, karena setahu saya untuk twitter tak menyediakan fasilitas edit layaknya facebook.

Tak mengapa, saya ikhlaskan pengalaman ini, tak ada guna memikirkan sesuatu yang sudah terjadi. Sepak bola terlalu kejam untuk mereka yang keseleo opini, belum lagi bila ketemu dengan orang-orang yang sedikit ngerti tapi terlalu fanatik. Susah.

Daripada menanggapi mereka yang kadung menghakimi, dalam tulisan ini mendingan saya tulis klarifikasi.
1. Saya menghormati klub dan pendukung Leicester City dan tidak bermaksud melecehakan keduanya.
2. Saya menaruh hormat dan tidak bermaksud melecehakan Swansea City, karena dalam kenyataannya Swansea berada di papan bawah tabel klasemen.
3. Saya memang pendukung Tottenham Hotspur, tapi siapapun juaranya (termasuk Leicester City), saya tidak masalah, sepak bola hanya hiburan, bukan segalanya. Mendukung dengan hati, bukan dengan emsosi.
4. Komentar saya berlaku hanya untuk satu pertandingan, bukan mengomentari hasil satu musim kompetisi.
5. Saya tahu sepak bola, tidak begitu bodoh amat, jadi mengerti mengenai sepak bola walau hanya sedikit. Jangan anggap saya ngawur.

Bila Anda ingin ikutan mem-bully saya, akun twitter saya @sukadist. Begitulah. Rupanya pepatah mulutmu harimaumu tidak sepenuhnya benar, karena masih ada faktor lain, bukan hanya mulut, tulisan dalam sebuah komentar pun bisa jadi harimau. Seperti kata Sujiwo Tejo: "Banyak orang pacaran, seabrek orang menikah, tapi cuma segelintir yang sempat mengalami cinta ...". #eh

Sukadi Brotoadmojo

Sukadi Brotoadmojo

http://www.sukadi.net

Pernah SD walau tak pernah TK. Sadar sepenuhnya bahwa ngapak adalah bahasa yang begitu sulit. Cari saya di google, maka Anda akan kecewa, karena saya tidak sembunyi disana.

View Comments